Indahnya Hijab Mbojo*

Rimpu Cili (C) Abdul Azis "Gizan"

Indonesia dengan keanekaragaman khazanah dan warisan budaya dari nenek moyang, adalah sebuah mutu Manikam yang tak pernah habis untuk dibicarakan keindahan dan kearifan lokal setiap suku-suku yang mendiami setiap wilayahnya. Dari Sabang sampai Merauke, adalah tambang emas budaya yang tak ternilai, sehingga masih minder jadi Warga Negara Indonesia yang kaya dengan keanekaragamannya? Saya sih bilang, TIDAK ! Semuanya berbentuk bermacam-macam, dari mulai pakaian adat, rumah adat, makanan, tari-tarian hingga    Kerajinan-kerajinan yang menjadi branding tiap daerahnya, tak terkecuali dengan Bima, surga terpencil di Nusa Tenggara Barat. Berbicara mengenai pakaian adat masyarakat Suku Bima atau Dou Mbojo, tidak bisa terlepas dari pengaruh kerajaan Bima yang merupakan kerajaan Islam yang tersohor di Nusantara bagian timur.  Pengaruh budaya Islam terhadap kebudayaan masyarakat Bima sangat besar. Oleh karena itu, keberadaan pakaian adat Bima tidak bisa lepas dari sejarah perkembangan Islam di masa lalu. Rimpu, pakaian adat perempuan Suku Bima ini merupakan bukti besarnya pengaruh kebudayaan Islam di Bima. Dari segi bentuk, rimpu sering diidentikan dengan mukena, yaitu pakaian yang dikenakan perempuan muslim ketika melaksanakan shalat. Satu set Rimpu terdiri dari dua bagian, sebagai penutup kepala sampai perut dan penutup perut sampai kaki (seperti rok perempuan pada umumnya). Secara fungsi rimpu dibagi menjadi dua jenis, rimpu cili dan rimpu colo. Rimpu cili khusus untuk perempuan Bima yang belum menikah, bentuknya seperti mukena dengan bahan sarung tenun khas Bima, hanya saja pada bagian atas rimpu cili, yang terbuka adalah sepasang mata pemakainya saja. Sedangkan rimpu colo, digunakan oleh kaum ibu yang sudah menikah. Rimpu colo menutup seluruh bagian tubuh kecuali wajah pemakainya. Bagi pria, yang menjadi ciri khas dari Suku Bima adalah sambolo atau ikat kepala. Sambolo merupakan ikat kepala yang terbuat dari kain tenun, motifnya yang serupa sarung songket (songke), membuat sambolo kerap kali disebut sambolo songke.  Cara memakainya yaitu menjalin masing-masing ujung sehingga melingkari kepala dalam keadaan tertutup. Selain itu, kaum lelaki mengenakan sejenis kemeja berlengan dan berkerah pendek. Pada bagian bawah, lelaki bima menganakan sarung songket yang disebut tembe me’e. Dan mengenakan ikat pinggang yang disebut salepe. Bentuk salepe tidak berbeda dengan selendang, pemakaiannya hanya dililitkan melingkar di pinggang. Secara umum, pakaian adat Bima memiliki nilai-nilai ajaran Islam. Pakaian adat bima berfungsi sebagai penutup aurat. Selain sebagai pakaian sehari-hari busana adat Bima bisa difungsikan sebagai pakaian ketika melaksanakan shalat.  Betapa agungnya setiap kebudayaan yang terbentuk, merupakan sebuah manifestasi akan keluhuran dan penghargaan akan setiap nilai-nilai luhur yang diciptakan. Sehingga kita sebagai generasi muda yang beriringan dengan Globalisasi mempunyai tantangan tersendiri untuk melestarikan sekaligus memperkenalkan ke kancah International bahwa memang kita kaya akan keanekaragaman semua. Mau tau lebih lengkapnya? Yuk, datang ke Festival Uma Lengge 2016. Kami mengundang Anda untuk ikut melestarikan Nusantara. *( Ombi Saputra, dari berbagai sumber)
Please follow and like us:
1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *