Ekowisata DAM Diwu Moro (Pengantar)

Sariwang Asia

Sariwang Asia (Asia Paradise Flycatcher)

Kabupaten Bima yang berada di ujung timur pulau sumbawa merupakan salah satu daerah yang sangat kaya akan flora dan fauna, setidaknya masih ada hutan hujan dan hutan masyarakat yang dikelola secara adat turun temurun dan kesadaran warga yang masih tinggi untuk melindungi kawasan tutupan Negara di beberapa wilayah. Lambu, merupakan salah satu kecamatan yang mekar dari kecamatan Sape yang berada di daerah timur Kabupaten Bima, alam dan hutan yang masih terawat dengan baik merupakan satu anugerah tersendiri bagi kecamatan ini, salah satunya adalah DAm Diwu Moro atau yang biasa di sebut DAM Sumi, dibangun pada tahun 2000 dengan luas melebihi 10 hektar yang memanfaatkan 3 aliran sungai, merupakan DAM penyedia Bahan baku air minum dan saluran irigasi untuk lahan kecamatan Lambu dan Sape. Alam Indonesia yang memiliki potensi alam, flora dan fauna, serta lingkungan yang cukup lestari itu kini mendapat perhatian besar supaya dapat diselamatkan bebas dari pengaruh lingkungan dan pencemaran yang dapat menimbulkan kerugian bagi penduduk Indonesia yang jumlahnya kini mencapai 220 juta orang. Gerakan kembali ke alam yang sekarang banyak dicanangkan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan beberapa pakar lingkungan hidup, pada dasarnya merupakan peluang (opportunities) bagi pengembangan ekowisata (ecotourism) di Indonesia. kita yakin bahwa pengembangan ekowisata dilihat dari usaha besar pembangunan untuk meningkatkan kemakmuran rakyat Indonesia sekaligus kualitas hidup rakyat yang sudah terlalu lama menderita. Apa yang dimaksud dengan Ecotourism? Dalam bahasa Indonesia istilah ecotourism diterjemahkan menjadi “Ekowisata”, yaitu sejenis pariwisata yang berwawasan lingkungan. Maksudnya, melalui aktiitas yang berkaitan dengan alam, wisatawan diajak melihat alam dari dekat, menikmati keaslian alam dan lingkungannya sehingga membuatnya tergugah untuk mencintai alam. Semuanya ini sering disebut dengan istilah Back-To-Nature. Berbeda dengan pariwisata yang biasa kita kenal, ekowisata dalam penyelenggaraannya tidak menuntut tersedianya fasilitas akomodasi yang modern atau glamour yang dilengkapi dengan peralatan yang serba mewah atau bangunan artifisial yang berlebihan. Pada dasarnya, ekowisata dalam penyelenggaraannya dilakukan dengan kesederhanaan, memelihara keaslian alam dan lingkungan, memelihara keaslian seni dan budaya, adat-istiadat, kebiasaan hidup (the way of life), menciptakan ketenangan, kesunyian, memelihara flora dan fauna, serta terpeliharanya lingkungan hidup sehingga tercipta keseimbangan antara kehidupan manusia dengan alam sekitarnya. Adapun daerah-daerah yang biasa dijadikan kawasan ekowisata, baik di luar negeri maupun dalam negeri adalah: 1.Daerah atau wilayah yang diperuntukkan sebagai kawasan pemanfaatan berdasarkan rencana pengelolaan pada kawasan seperti Taman Wisata Pegunungan, Taman Wisata Danau, Taman Wisata Pantai, atau Taman Wisata Laut. 2.Daerah atau zona pemanfaatan pada Kawasan Taman Nasional seperti Kebun Raya Bogor, Hutan Lindung, Cagar Alam, atau Hutan Raya. 3. Daerah pemanfaatan untuk Wisata Berburu berdasarkan rencana pengelolaan Kawasan Taman Perburuan. Pendidikan ekowisata di Indonesia belum ada. Walau di Indonesia sudah banyak sekolah tinggi pariwisata, sampai sekarang (tahun 1999 –red) belum tercantum dalam kurikulumnya. Ekowisata baru disebut-sebut sebagai suatu jenis pariwisata yang berwawasan lingkungan, tetapi mengapa ekowisata belum diajarkan secara luas. Materi pelajaran ekowisata baru tercantum dalam kurikulum pendidikan perguruan tinggi Biologi, Konservasi, dan Kehutanan, itu pun belum secara luas. Informasi-informasi tentang ekowisata justru lebih banyak ditemukan pada Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang memang banyak menaruh perhatian terhadap lingkungan. (_to be continue) daftar bacaan : 1. https://studipariwisata.com/analisis/ecotourism-pariwisata-berwawasan-lingkungan/
Please follow and like us:
1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *