Baju Poro dan Honggo Naru

Ada yang bilang pakaian adat Bima hampir mirip dengan pakaian adat Sulawesi Selatan. Semua itu memang tidak dapat dielakkan lagi karena ikatan sejarah antara kerajaan Bima dan Makassar, Gowa, Bone dan Tallo itu memiliki hubungan dan ikatan kekeluargaan serta kekerabatan. Proses pembauran dan asimilasi budaya itu telah berlangsung lama dan mempengaruhi juga cara berbusana dan motif busana yang dikenakan. Meskipun ada beberapa perbedaan antara busana adat Bima dengan Sulawesi Selatan.
baju poro

Baju Poro (talent : Putri, Location : Uma Lengge Wawo, Picture by : Gizan)

Warna yang menonjol dalam pakaian adat Bima antara lain hitam, biru tua, coklat, merah dan kemerah-merahan serta putih. Untuk pakaian wanita memakai kain sarung kotak-kotak yang dikenal dengan sebutan Tembe Lombo. Disamping pakaian sehari-hari pakaian adat juga diatur oleh pihak Kesultanan. Yang diatur oleh Majelis Adat yang disebut KANI SARA. Prosedur dan Tata Cara pemakaiannya pun telah diatur dalam ketetapan Hadat. Dalam kehidupan sehari-hari orang Bima mempunyai pakaian sendiri. Khusus untuk wanita meliputi Baju Poro. Baju ini terbuat dari kain yang agak tipis tetapi tidak tembus pandang. Umumnya berwarna biru tua, hitam, coklat tua dan ungu. Bagi gadis-gadis Bima biasanya memakai warna ungu atau coklat tua. Para wanita pun memakai aneka perhiasan seperti gelang, anting dan lain-lain. Namun terlarang untuk memakai secara berlebihan.
hallloooooo uma lengge ke???

Baju Poro dengan perlengkapannya (picture by : Gizan, Location : Festival Kuda Bima, Talent : Doji)

Selain menggunakan BAJU PORO, masyarakat bima pada umumnya saat sekarang lebih memilih menggunakan sarung nggoli atau yang biasa di sebut dengan TEMBE NGGOLI, ada beberapa alasan kenapa masyarakat bima pada saat sekarang sering menggunakan TEMBE, yang pertama adalah dari sisi estetika, jika dilihat secara kasar mata, pemakaian baju poro tidak sesuai lagi dengan ada budaya Islam yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Bima, yang kedua kemungkinan yang paling besar adalah sudah tidak sesuai dengan jaman. Bagaimana dengan pemakaian tembe Nggoli saat sekarang? apakah sesuai dengan jaman? dapat kita lihat keseharian masyarakat Bima yang notabene adalah para peladang dan para petani, mereka membutuhkan sarung yang bisa membuat mereka nyaman ketika melakukan ibadah dan membuat mereka nyaman ketika mereka beristrihat, bagaimana bisa TEMBE NGGOLI menjawab itu semua? Pertama adalah, TEMBE NGGOLI sebagai tenunan hasil karya masyarakat bima yang tidak menggunakan bahan pewarna yang berlebihan sehingga dirasa afdol untuk menutup aurat ketika melakukan ibadah di lahan pertanian dan perkebunan, kedua, sifat TEMBE NGGOLI yang sejuk ketika udara panas membuat nyaman para petani dan peladang, walaupun sebagai kain tambahan dari kain utama dari pakaian mereka. Masih banyak kebiasaan dan adat istiadat masyarakat bima yang sampai sekarang masih dipertahankan oleh sebagian kecil warga Bima, salah satunya lagi adalah TRADISI MEMANANGKAN RAMBUT bagi kaum perempuan atau wanita? Tradisi ini masih di pegang oleh sebagian kecil warga yang berdomisili di daerah Wawo Kab. Bima, masyarakat di Wawo menggunakan bahan-bahan alami untuk merawat rambut mereka dari mulai bayi sampai dengan dewasa menginjak umur 20 tahun, mereka menggunakan buah KEMIRI yang di bakar dan hancurkan untuk mengambil minyaknya, bukan di olah oleh pabrik modern seperti yang di jual di toko-toko atau kios-kios. Rambut yang panjang merupakan sebuah anugerah tersendiri bagi mereka dan merupakan sebuah kebanggan tersendiri, pada umur yang menginjak dewasa, rambut mereka bisa sampi ke lutut dan sangat terawat dengan baik.
honggo ma naru, sarome ma maci, ari gaga ma moci

salah seorang gadis Maria Wawo yang masih melestarikan kebiasaan rambut panjang. (talent : Putri, Location : Umalengge Wawo, Picture by : Gizan)

dan semakin hari, adat budaya yang ada di tanah bima hususnya tradisi memanjangkan rambut dengan menggunakan bahan-bahan alami ini makin tergerus oleh teknologi yang tidak bisa dibendung lagi, semoga suatu saat nanti, akan ada penerus yang masih melanjutkan tradisi ini di negeri 12 matahari. amiin... * referensi http://blogmituyu.blogspot.co.id/2010/12/pakaian-adat-bodo-bima.html
Please follow and like us:
1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *