NYASAR DITANAH BIMA*

Ini adalah minggu terakhir saya di tanah air setelah lebih seminggu berada di jakarta untuk bertemu ke 2 orang tua melepas rindu.
anna Kalina Penalosa

Blue Village [at] Santigi Sape Bima NTB (Foto by :Gizan, Lokasi : Blue Village Santigi Sape Bima, Take at: Sunrise)

Sekalian mengisi libur ester karna saya tinggal negara sub tropics jadi bisa dibilng libur musim semi,karena musim libur tahun pertama bagi orang Barat atau Asia Timur ya dibulan Maret dan April . Waktu yang tinggal 1 minggu ini saya gunakan untuk travel mengenal Indonesia lebih dekat lagi. Saya memilih Destination pulau Komodo dan saya pun segera bersinergy dengan teman baik saya yangg pernah memberi saran kalau untuk ke pulau komodo saya bisa ambil lewat Sape Bima. Nama Bima Tidak asing bagi telinga saya karena di tahun 2012 ayah pernah pamit ke keluarga untuk latihan perang disana dan waktu itu liburan panjang setelah semester dan liburan saya tahun itu tanpa bertemu ayah dan abang pertama,Sampai saya pulang lagi ke negeri tirai bambu menuntut ilmu dan sampai pada akhirnya saya kenalan dengan orang Bima bernama Jericho via Media Sosial Dialah yang memberi saran kepada saya untuk Datang ke pulau komodo via Bima. Dia menginfokan kepada saya bahwa dari sape Bima menuju pulau komodo hanya 1 jam yang membuat saya tergiur datang ke Bima. Tanggal 26 maret pukul 3:30 pagi alaram telpon seluler ku berbunyi bertanda saya harus bangun siap-siap ke bandara jam 4 pagi karena penerbangan jam 6 pagi. Ya walaupun rumah orang tua di cengkareng yang notabene dekat airport soekarno-hatta saya masih harus bangun pagi, karna saya tahu tidak ada orang yang mengantarkan saya ke airport. Dan saya harus tiba pukul 5 pagi Kalo tidak mau ditinggal burung besi Agar sampai Bima jam 10 pagi, Perjalan ke Bima dari Jakarta 1 kali transit di lombok Untuk dari jakarta ke lombok saya ga begitu menikmati saya masih ngantuk makanya saya milih tidur di pesawat, dan jam 9:00 pagi pesawat saya menuju bima Lain perjalanan Jakarta lombok yang tidur dari lombok ke Bima Mata saya malah melek lihat bukit sana sini wah full bukit dalam bahasa cina hou leng ahhhh (cantik banged)pantas latihan perang pada disini dari atas pesawat saya udah kagum bertapa indah tanah Timur ini ahhh benar kata teman ku Alexander Bondarenko "Tuhan menciptakan Indonesia Kala ia Ia terseyum" Ingin rasanya saya mendaki 1 persatu bukit yang mengelilingi bima ini seperti aku mendaki bukit yang mengitari shanghai, guandong,zen-zen atau negeri beton Hongkong. Mengunjungi lokasi wisata yang demikian terpencil dan menggali cerita masyarakat. Semakin menyadari betapa kaya alam dan budaya negri ini yes...! well done pesawat yang membawa saya mendarat mulus di bandara Sultan M.Salahudin. Berada di tempat asing (maksudnya yang bukan rumah sendiri) membuat saya selalu waspada dengan penduduk setempat apalagi saya tidak tahu budaya mereka nanti salah-salah bisa disasarin atau jadi korban kriminal kalo yang kedua tidak kwatir karna saya sudah punya bekal bela diri yang belum lihai banged Takutnya cuma di kroyok aja ha ha ha. Dan taraa setelah lebih dari 30 menit akhirnya porter ku tiba juga mister Jericho S.t Perjuangan saya menolak ajakan Para porter lain yg merayu dan membuntutiku kelar juga, saya merasa aneh aja mereka seolah tidak pernah melihat orang jakarta ke daerah Timur. Sepanjang perjalanan dari airport ke Pusat Kota Bima Saya disajikan pemandagn indah huh danau ya bung jerry tanyaku kepada Mr. porters Cakep-cakep mulutku masih aja memuji keindahn alam bima sampe pada bung jerry nawarin buah lokal bernama loka dan srikaya ini buah lokal bima I never tri before Rasanya asem-asem pulen Lumayan deh daripada lumanyun. Sampe pada petegahan jalan bung jerry calling temen-temanya, ahaa...Saya tidak mengenal siapapun di Bima ini namun saya harus menjawab telpon yang ditugaskan oleh bung jerry untung saya orangnya mudah bergaul jadi gampang komunikasi dgn temen orang bernama Gizan itu dan,tarra kami pun bertemu bertatap muka Entah orang Bima yang aneh atau saya, ketika melihat saya pakai safety belt aja dibilang lucu Hue hue udahlah tapi udah jadi kebiasaan saya kalau udah didalam mobil ya pasang safety belt Satu persatu temen bung jerry dipanggil diajak gathering sambil makan siang . Makanan Bima sendiri terdiri dari empat bagian di luar nasi, ada kelompok sayuran, kelompok lauk-pauk, kelompok sambal, dan kelompok makanan kecil. Dan yang makan juga kelompok pecinta burung pastinya. Bima yang secara geografis berada di pesisir pantai mempengaruhi selera makan orang Bima. Kebanyakan makanan Bima terdiri dari ikan dan hasil laut lainnya. gizan bilang kalau belum makan pakai ikan rasanya gimana gitu ada yang kurang pokoknya seafood is the best lah.Ikan berkuah asam,manis, pedas, dengan tambahan aroma khas daun kemangi waahh ngebayangin aja udah ngiler ini menjadi bisa dibilang masuk ke kelompok lauk. Yang kedua adalah Kelompok Sayuran. Daun dan Buah Kelor adalah sayuran yang paling populer di Bima. Banyak penelitian menunjukan bahwa daun kelor sangat bermanfa’at untuk kesehatan. Dalam Kuliner Bima memang tidak banyak dikenal sayuran yang ditumis, sayur itu selalu identik dengan makanan yang berkuah. sayur bening daun kelor ini sangatlah simple, sayur bening dari daun kelor, sayur ini sangat diminati oleh orang bima, untunglah di belakang rumah nenek masih tumbuh banyak pohon kelor jadi kalau timbul rasa “kangen” akan daun kelor maka secepat mungkin memetiknya. Kelompok Pelengkap atau Sambal. Ini paling penting, kalau tak ada yang satu ini rasanya tidak lengkap, di Bima ada banyak sekali ragam jenis sambal, baik sambal mentah maupun matang. Enak atau tidaknya suatu santapan tergantung makanan pelengkap ini. Acara makan selesai kita kembali jalan menyusuri danau dan lagi-lagi saya lupa bertanya apa nama danaunya sepanjang perjalanan saya dipertemukan dengan sapi, kuda dan domba yang hidup bebas tanpa penjara kandang bahkan tak jarang binatang ini menguasai jalan Hou tak yi ahh (lucu banged ) saya juga senang lihat mereka Merdeka semoga tidak ada mobil yang menerabak for soon. Hari udah mulai sore kami yang tadinya berlima dari danaupun pulang kembali ke kota one by one kami berpisah dengan om dudin dan om Bre mereka ini teman baik bung Jericho sekarang juga temanku. Tinggalah kami bertiga saya, bung jerry dan bung Gizan ditengah perjalanan kami ngobrol tentang masyarakat Bima dan kebudayaanya. Ngomongin budaya saya paling demen nih Maklum makanan hari-hari dikampus Lian Tian University of Shanghai. Cuma bedanya saya disastra China kalee. Di perjalanan bung Jerry minta bung Gizan mengajak saya ke Uma legge tentunya pake bahasa planet mereka alias bahasa Bima. tidak lama kemudian tibalah kami di uma lengge berlokasi di tiga tempat yaitu di Desa Maria Kecamatan Wawo, Desa Mbawa Kecamatan Donggo dan Desa Sambori Kecamatan Lambitu. Rumah tradisional Bima khususnya di wilayah Mbawa dan Padende (Donggo) disebut Uma Leme. Rumah tradisional yang disebut “Uma Lengge" berasal dari 2 suku kata pertama Uma yang berarti berarti rumah dan lengge berarti mengerucut/pucuk yang menyilang. Uma lengge merupakan rumah tradisional peninggalan nenek moyang suku Bima. Secara umum struktur uma lengge berbentuk kerucut setinggi 5 cm sampai 7 cm, bertiang 4 dari bahan kayu, beratap alang-alang yang sekaligus menutupi tiga per empat bagian rumah sebagai dinding dan memiliki pintu masuk dibagian bawah atap, terdiri atas atap rumah atau butu uma yang terbuat dari alang-alang, langit-langit atau taja uma yang terbuat dari kayu lontar, serta lantai tempat tinggal terbuat dari kayu pohon pinang atau pohon kelapa. Pada bagian tiang rumah juga digunakan kayu sebagai penyangga, yang fungsinya sebagai penguat setiap tiang-tiang uma lengge. Uma lengge terdiri dari 3 lantai. Lantai pertama dipergunakan untuk menerima tamu dan kegiatan upacara adat, lantai kedua berfungsi sebagai tempat tidur sekaligus dapur, sementara itu lantai ketiga digunakan untuk menyimpan bahan makanan, seperti padi dan hasil panen pertanian.
uma lengge

di Uma Lengge Wawo Maria

Seiring perubahan zaman dimana masyarakat lebih memilih tinggal di rumah yang lebih luas dan nyaman maka keberadaan uma lengge ini sudah semakin terkikis dan tertinggal. Fungsinya pun sudah dialihkan sebagai lumbung padi dan terpisah dari rumah penduduk. Seperti halnya uma lengge yang ada di Desa Maria Kecamatan Wawo, uma lengge sudah ditempatkan dan dikelompokkan jauh dari areal rumah penduduk. Hal ini dimaksud untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, seperti ketika ada kebakaran atau bencana lain. Bila rumah tempat tinggalnya terbakar maka masih ada uma lengge sebagai lumbung yang menjadi hartanya atau sebaliknya. Uma Lengge merupakan aset budaya bima dan warisan leluhur Suku Bima yang harus dijaga dan dilestarikan untuk para generasi yang akan datang Agar mereka tidak lupa akan asal muasal keberadaan mereka dan menjadi khalifah yang sesuai Kehendak-NYA. Akhir kata terima kasih pada Teman-teman dan masyarakat Bima untuk ilmu nya Salam Anna Kalina Penalosa
Please follow and like us:
1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *