Metamorfosis Budaya di bukit Maria (sebuah catatan Husain Laodet)

Kebudayaan itu serupa perasaan dari suatu bangsa yang kompleks,meliputi pengetahuan,kepercayaan,seni,moral,hukum,adat istiadat (kebiasaan) dan pembawaan lainya yang diperoleh dari para anggota atau bagian masyarakat. (Taylor,1897)

Cau Muna (foto by : Edward Edy) tatrikal pembuatan cau muna (sisir tenun) oleh pemudi desa Ntori Wawo yang masih terus di lesatarikan sampai dengan sekarang.

Puluhan pemuda berhimpun di sebuah sore yang tak terduga; pertautan energy, antusiasme, bergunung-gunung harapan, juga cemas, pergumulan garis wajah yang tak cuma menatap kaku dan pasif, tetapi memintal tekad dan tiraqat. Saat itu, di bwah kubah langit berlangsung sebuah transformasi, kemeriahan yang akan segera terjadi. Kedirian individu yang kokoh dan tangguh. Adalah mereka yang yakin. Sebuah subyek pada saat ke saat, ingin segera melihat sebuah peristiwa kemegahan budaya, yang dirakit oleh mereka dari sebuah ide kecil dan sederhana, yang tentu merangkak dari angka nol. Di kompleks bangunan tradisional Bima “uma lengge” desa Maria Wawo, 7-9 September 2016, uma lengge festival bukan hanya terjadi begitu saja, tapi juga bukan hanya kegiatan egosentris anak bangsa—berhadap-hadapan dengan kepasifan serta nirkreatifitas pemangku kebijakan kepariwisataan dan budaya dalam upaya pengembangan kekayaan khasanah budaya. Kita punya keyakinan bahwa kita akan menyaksikan sebuah “kejadian.” Sebab dalam kata “kejadian, dengan akar kata “jadi” sangat tepat ketimbang, “l’événement”, karena anggapan yang semula tak berbentuk, seketika hadir — tanpa digerakkan sebuah system birokrasi dan modal anggaran yang cukup. Peristiwa budaya itu terjadi tanpa bisa dirumuskan dan dinamai “mahluk apakah dia”, ditengah pemiskinan makna berbudaya, peduli dan pelestarian. Kita sepakat kiranya di sini kita tak berbicara tentang sebuah keajaiban. Peristiwa yang ter-“jadi” adalah semata-mata sesuatu yang sangat langka, sesuatu yang tak bisa diuraikan dengan satu sebab dan satu akibat. Itu barangkali bahasa yang bisa diungkapkan. Tiap kejadian adalah terobosan dari tatanan sebab akibat dan kelaziman yang biasanya berlaku. Ketika dalam kebudayaan yang tersisih dan terpinggir, berbagai hal — dukungan di DPRD, pemerintah daerah, pemangku budaya, pun yang merasa diri dengan gagah menyandang predikat budayawan — yang biasa berdagang, menghitung untung rugi dari sebuah implementasi ivent budaya. Di kompleks uma lengge kaki bukit Maria, menjawab sebaliknya. Seniman tradisi lokal yang memiliki semangat bak batu-batu cadas, pemerhati budaya yang menghimpit rindu, sebagian peneliti budaya yang bersikap harap-harap cemas, puluhan fotografer bermandi matahari memikul senjata camera mereka yang menyerupai bazooka, dan masyarakat local desa Maria yang berhati lugu, pun sebuah sebuah group band La Hila, kelompok musik putra daerah yang sukses menagarungi bahtera blantika musik di Jakarta; menyuguhkan keceriaan, warna harapan dan cita-cita mulia, bagaimana mencintai yang sesungguhnya —datang ke sana dan aktif di sana tanpa mendapatkan bayaran atau janji apapun. Ketika lazimnya ratusan orang berhimpun dengan tujuan memprotes sesuatu, sore itu, dari ujung jemari atap alang-alang uma lengge, serta bukit kecil desa itu, tak ada suara muak dan rasa benci pada apa yang seharusnya. Ya seharusnya Festival Uma Lengge adalah wajah kita, sebuah lokus dimana keutuhan jiwa dan raga terpantul, melukis keceriaan, kebanggan dan juga kerinduan. Generasi Bima telah menyapa dengan sendu, tidak menampar, tak memprotes dan tak meminta.

sang penari foto by : Comenk Tarmizi ZRP sang penari tarian sampela lempo yang dibawakan oleh sanggar La Diha Maria wawo.

Jangan bertanya “Apa kabar pemerintah daerah”? pasti akan kau terima jawabannya dengan pidato yang lebih seru dari kobaran teriak sang putra fajar bung Karno—pasti pun akan kita temui sebuah drama panggung dengan sikap wibawa, raut muka yang di tata, irama suara yang seakan-akan, dan semoga bukan janji bual. Sore itu, di kaki bukit Maria, dalam gairah ratusan orang itu, yang universal sejenak singgah. Bukan dari langit, tapi dari debu jalanan yang melekat di keringat orang yang berharap. Sebuah “Kami” pun lahir. Tapi pada saat itu, sebenarnya bukan hanya “Kami”, melainkan juga “Kita.” Saya menyaksikan kejadian itu. Saya tak bisa merumuskannya dan saya kira ia bukan sesuatu yang bisa dirumuskan secara tetap. Tapi bagaimana pun juga, sore itu saya melihat bahwa budaya (kebudayaan Bima) tak hanya satu wajah. Uma Lengge bukan hanya sebuah struktur arsitektur kayu yang berkarakter tradisional--beridentitas mbojo, berbentuk limas, beratap alang-alang akan tetapi lebih dari itu, adalah ruang interaksi sosial, sirkulasi budaya dengan segala pernik ritus yang tumbuh sebagai rohnya. Ia juga sebuah wajah “ke-Kami-an atau ke-Kita-an”.
Please follow and like us:
1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *