Panggita dan Pandita, mana dari keduanya*

Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa sejarah memang memegang peranan penting dari sebuah peradaban bangsa, bagaimana tidak, tampa kejelasan sejarah, sebuah bangsa bisa dikatakan tidak memiliki arwah (roh/ruh) tersendiri dalam menghadapi serbuan kemajuan yang begitu pesat, indonesia merupakan salah satu negara dengan sejarah terlengkap yang pernah ada. Indonesia, negara kepulauan, terdiri dari beribu-ribu suku bangsa dan beribu-ribu bahasa dari setiap suku bangsa tersebut, berkat adanya sejarah sumpah pemuda yang menyatukan seluruh keberagaman maka terpilihlah bahasa kebangsaan yaitu bahasa indonesia, kemanapun kita pergi ke pelosok negeri ini, akan sangat mudah berkomunikasi dengan warga atau penduduk yang mendiami wilyah tersebut dengan menggunakan bahasa indonesia. Nusa tenggara barat, terdiri dari 3 (tiga) suku bangsa asli, Sasak yang mendiami pulau lombok dengan bahasa sasaknya, samawa yang mendiami pulau sumbawa bagian barat dengan bahasa samawanya, Bima yang mendiami pulau sumbawa bagian timur dengan bahasa Mbojo nya, jika sasak dan Samawa memiliki masing-masing 1 (satu) bahasa daerah di tambah dengan 1 (satu) bahasa nasional, maka bima memiliki 4 bahasa daerah, Mbojo mantoi (yang masih di pakai oleh warga di kecamatan lambitu), mbojo ma Bou (bahasa bima yang umumnya dipakai oleh seluruh warga bima), nggahi donggo (bahasa bima yang dipakai oleh masyarakat Donggo), nggahi kolo (bahasa yang digunakan oleh warga di pesisir pantai bagian utara bima termasuk wera dan sekitarnya). Dari 4 (empat) bahasa yang ada di bima tersebut, masing-masing bahasa memiliki pengucapan yang berbeda-beda, nggahi mbojo ma ntoi yang digunakan oleh warga lambitu tidak akan bisa dimengerti oleh warga yang ada bima kota (wilayah administratif baru yang dibentuk tahun 2003 dan merupakan pemekaran dari wilayah bima), donggo ataupun kolo dan wera, begitu juga sebaliknya, namun nggahi mbojo ma bou (bahasa bima yang baru) bisa dimengerti dan di ucapkan oleh seluruh warga yang ada di bima baik itu kota dan kabupaten, dengan istilah kerennya adalah bahasa pemersatu selain bahasa indonesia. Sejarah memang selalu identik dengan wujud nyata atau dengan literatur yang tercatat secara rapi dan diketahui secara luas oleh semua orang sehingga mendapakan pengakuan secara umum, begitu juga dengan sejarah yang ada di bima (mbojo), begitu banyak sejarah yang ada di tanah bima sudah diakui oleh khalayak umum dan merupakan warisan budaya yang harus dilestarikan sampai ujung masa. Pada jaman dahulu, bima merupakan kerajaan yang terpecah dan terdiri dari kerajaan kecil yang mendiami seluruh kawasan timur pulau sumbawa, ada banyak kerajaan semisal, tambora, sanggar, donggo, dan lain sebagainya (literatur lengkap pada bo sangaji kai) yang di pimpin oleh raja-raja kecil yang disebut ncuhi, ada 5 orang ncuhi di tanah bima, namun 4 ncuhi merupakan penjaga penjuru bima dan satu ncuhi merupakan ncuhi utama. Ketika islam masuk di tanah bima, ncuhi-ncuhi tadi menunjuk seseorang untuk memimpin pemerintahan bima yang disebut sangaji atau sultan atau dou ra turu ro toho, sangaji inilah yang merupakan representasi dari nchui-ncuhi tadi untuk memimpin bima menjadi sebuah kerajaan dan kesultanan yang diakui oleh nusantara. Dalam masyarakat bima, ada satu keahlian dan jabatan khusus yang tidak bisa di jabat atau di berikan begitu saja, keahlian tersebut merupakan keahlian turun temurun yang diwariskan oleh generasi terdahulu kepada generasi setelahnya, PANDITA merupakan sebuah keahlian yang saat sekarang masih di pegang oleh beberapa orang yang ada di setiap kampung / daerah / wilayah bima, biasanya yang masih memegang keahlian ini adalah orang-orang yang benar-benar dekat dengan tuhan dan mengetahui pengetahuan nujum (ilmu perbintangan), panggita menunjuk seorang PANGGITA yang merupakan peletak / pemula sebuah pekerjaan sebelum pekerjaan itu dimulai oleh banyak orang, dengan memperhitungkan tata letak bintang (ilmu prebintangan / ilmu nujum) maka bisa dipastikan hari dan waktu yang sangat tepat untuk memulai sebuah pekerjaan oleh pandita. Panggita yang dikenal oleh masyarkat bima pada umumnya adalah orang yang memiliki keahlian dalam memulai pekerjaan mambangun sebuah tempat tinggal, semisal rumah, dalam adat budaya bima yang sampai sekarang, panggita merupakan orang yang akan meletakkan atau pertama untuk penyangga tiang rumah panggung tersebut sehingga diharapkn rumah tinggal tersebut di berkahi oleh tuhan yang maha esa, dijauhkan dari segala bahaya, dan memberikan kesejukan serta surga bagi penghuninya, panggita meletakkan pondasi atas petunjuk dari pandita (sampai sekarang saya sendiri masih bingung antara pandita dan pendeta, dimana letak perbedaan keduanya, atau mungkin saya kurang literatur?), jadi sebenarnya, mana yang lebih tinggi posisi pandita dan panggita? Bagi saya itu tidak penting, secara hirarki bagi saya pandita itu lebih tinggi dari pandita, tampa seorang padita yang menentukan hari dan waktu yang baik menurut ilmu perbintanganmaka panggita tidak akan bisa malakukan pekerjaan dari sebuah pekerjaan. Pada teknisnya sekarang, antara pandita dan panggita sudah menjadi satu, menjadi satu orang maksud saya, keahlian dari pendita sudah di miliki oleh beberapa orang panggita, sehingga panggita sendiri bisa menentukan hari dan waktu yang baik untuk melakukan sebuah pekerjaan berdasarkan ilmu nujum (perbintangan) yang dia pelajari. _continue * catatan oleh Gizan yang bersumber dari pemikiran sendiri
Please follow and like us:
1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *