Jatiwangi Hill “neraka keindahan”

apa yang terlintas dari pikiran kita tentang sebuah neraka, ya, akan terbayang di pelupuk mata kita bahwa disana adalah tetnang segala kehancuran, ketidak indahan dan ketersiksaan yang sangat perih, namun apa yang akan kita bayangkan tentang surga, di pelupuk mata kita pasti akan terpampang segala keindahan yang tak ada batas dan kedamian yang tiada tara. Entah bagaimana jadinya jika kedua tempat itu di satukan, apakah akan menajdi paduan yang sangat sempurna atau memang akan menjadi sebuah tempat yang hancur berantakan ketika menikmatinya itu. Dalam setiap pandangan dan pikiran kita, ketika tempat tersebut dijadikan satu semisal hitam dan putih maka salah satunya akan menang, baik itu nerakanya atau surganya. https://www.instagram.com/p/BKAjor1A3Rf/?taken-by=gizan_hila Kota Bima dengan struktur kota yang menyerupai tungku, di kelilingi oleh banyaknya cekungan lembah dan bukit-bukit yang tidak terlalu tinggi untuk digapai atau dilewati menggunakan kendaraan roda dua atau empat, tidak pernah kalah dengan kabupaten bima sebagi cikal bakal lahirnya kota bima 2003 silam yang memiliki keindahan tiada tara, bisa dikatakan merupakan sebuah surga tersembunyi yang ada dibelahan sunda kecil. Banyak pejalan yang datang dari seluruh pelosok negeri, menikmati keindahan sepotong surga yang jatuh kebumi, dan menikmati neraka yang terhampar di sela-sela surga tersebut, satu kenikmatan dan satu kehancuran. Ada apa sebenarnya sampai dikatakan begitu. Sudahlah, tidak usah bercerita banyak tentang itu, lebih baik menikmatinya secara langsung saja dan kita akan bercerita bersama nanti di baruga pada sebuah bukit yang sedikit tenar di kota ini, JATIWANGI HILL dan JATIWANGI HELL Jatiwangi merupakan sebuah tempat dari sebuah administrasi kelurahan di kota bima, penghubung dari wilayah utara, wera, dengan struktur perbukitan dan lembah sehingga memungkinkan untuk mendapatkan view lanscape yang mempesona pada waktu pagi. ada beberapa makna dari kata jatiwangi sendiri jika diartikan dalam bahasa indonesia, namun untuk menjelaskan jatiwangi ke khalayak umum perlu di pisah dua dahulu, secara harfiah, JATI berarti sebuah pohon yaitu pohon jati, dan wangi berarti harum dalam bahasa bima-nya wangi adalah MENGI, jika digabung maka menjadi JATI MA MENGI (hanya arti kata yang serampangan dari saya, ga usah di ikutin, lupakan saja hahhaha, secara saya sendiri tidak tau arti jatiwangi kok, ya anggaplah sebagai bumbu penyedap saja tulisan saya barusan) Bukit jatiwangi mulai terkenal ke khalayak umum sejak tahun 2016 pertengahan, dimana dibuka sebuah jalan ekonomi oleh pemerintah kota bima untuk keperluan pertanian dan perladangan, karena memang kota bima adalah ota dengan tingkat lahan pertanian tertinggi di NTB, pembukaan lahan baru dan lahan lama yang di miliki oleh warga memaksa pemerintah kota bima untuk membuka beberapa jalan ekonomi untuk keperluan pengangkutan hasil pertanian dan perladangan. Pada dasarnya, bukit jatiwangi diperkenalkan oleh kawan-kawan fotografer dan kawna-kawan bike to work yang berdomisili di bima, lewat sentuhan tangan mereka, bukit jatiwangi menjadi salah satu icon wisata di dunia maya, setiap tamu yang datang pasti akan berkunjung ke sana karena memang waktu yang tepat untuk kesana adalah pagi hari. bagaimana dengan doro raja yang menjadi sebuah icon lenscape dahulu, yang sering di kunjungi oleh wisatawan luar dan domestik untuk menikmati kota bima dari ketinggian ratusan MDPL dan itu sudah bisa mengobati rasa view lanscape kota bima, disamping itu, wisata sejarah juga ada di bukit rade raja, karena memang disana adalah makam raja-raja bima dan keluarganya dan sekarang sudah mulai sepi karena di gantikan oleh bukit jatiwangi. ada beberapa alasan kenapa rade raja mulai sepi dari pengunjung. 1. keadaan yang gelap ketika malam sehingga sangat dirasa mencekam 2. dijadikannya sepanjang jalan ke rade raja sebagai sebuah tempat "mesum" oleh beberapa orang anak muda mudi 3. tidak adanya pengawasan lebih lanjut dari pihak terkait menganai dua masalah diatas. selain dari 3 alasan diatas, ada beberapa alasan lain yangg menjadikan bukit rade raja sepi, tidak perlu saya jelaskan lebih lanjut, silahkan bertandang kesana jika ingin merasakan sepi.

Tanah ini mengajarkanku banyak kesabaran dan arti.... #land #bima #mbojo #indonesia #home #dead #rock #

A photo posted by la hila (@gizan_hila) on

Namun, sesepi apapun bukit rade raja dan seramai apapun bukit jatiwangi, bagi saya pribadi, bukit rade raja masih menjadi andalan untuk tetap di kunjungi, ada tempat dimana saya mendapatkan kedamaian dan keindahan sempurna disana, ada tempat yang jarang orang ketahui bahwa disana lebih indah dari yang lainnya, ada tempat yang bagi saya bahwa tempat itu masih memiliki aura yang begitu saya sukai. bagian selatan dari rade raja adalah tempat tersebut, dengan bukit berbatu dan view yang asik menjadikan tempat tersebut adalah pilihan utama ketika hendak menenangkan diri ditemani segelas kopi dan canda tawa sahabat serta kawan di samping kiri kanan. kembali ke jatiwangi hil dan neraka-nya. jatiwangi bisa ditempuh dengan waktu 25 menit dari Mangga3 Bima, dengan menyusuri jalan utama (jalan negara) menuju arah utara, sebelum sampai di bukit, kita akan di suguhkan neraka, ya neraka kecil sejauh mata tidak bisa memandang, bukit yang dulu adalah bukit hijau dengan banyak pepohonan yang rindang di sekelilingnya sekarang menjadi sebuah bukit yang hanya ada pohon jagung, kedelai dan kacang tanah, dan merupakan daerah perladangan warga sekitar kota bima, kenapa harus ada kata "neraka" di bukit jatiwangi? daerah yang begitu bagus dahulu kala namun sekarang merupakan sebuah ancaman tersendiri bagi warga kota bima ketika musim hujan tiba, air bah seakan-akan menghantui setiap warga yang berada di kota bima yang dikirim dari wilayah ini, struktur tanah yang begitu rapuh juga merupakan sebuah ancaman tersendiri bagi bukit jatiwangi, longsor. Kita lupakan itu, kita melihat surganya jatiwangi, kala mentari menyambut hangat di area kota bima, bukit jatiwangi adalah salah satu spot terindah yang pernah ada dikota bima untuk mengabadikan moment puncak sebuah kota :
banyak para fotografer lokal yang mengabdikan moment di sini, walaupun hanya sekedar foto kabut yang begitu memukau di atas atap rumah warga, atau sekedar foto kabut tipis di celah-celah lembah desa Ntobo dan rasa Lewi ataupun kabut tipis dari arah timur kota bima. _to be continue
Please follow and like us:
1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *