Donggo, Keajaiban (bagian 1 dari 4)

Apa yang akan terlintas ketika warga bima menyebut nama sebuah daerah di deretan perbukitan bagian barat, Donggo tentu saja menjadi sebuah pilihan kata untuk diucapkan, Bagian barat bima yang terletak di daerah perbukitan yang begitu memukau pandangan dengan segudang sejarah yang tak bisa dikupas dalam satu waktu, tempat yang begitu sejuk ketika musim hujan tiba, kabut yang begitu sempurna untuk di dokumentasikan dengan seksama, semuanya indah.

Mbawa Race Field Donggo

Donggo merupakan sebuah tempat yang di pilih oleh pemangku kebijakan di tanah bima mulai dari jaman kerajaan dahulu sampai dengan sekarang, pasanggrahan adalah sebuah tempat dimana para pemangku kebijakan melepas lelah dengan memantau wilayah sekitarnya dari daerah yang tinggi untuk memastikan seluruh masyarakatnya nyaman dan sentosa, selain itu, pasanggahan (rumah istirahat bupati) dijadikan sebuah warisan budaya yang dikelola oleh dinas pariwisata sebagai tempat hostory tanah bima. Donggo dengan sejuta pesonanya menyimpan sejuta tanda tanya yang sampai sekarang masih menjadi tanda tanya besar dalam setiap perjalanan saya pribadi, dari saya bayi sampai detik saya menerbitkan tulisan ini, hanya 5 kali saya mengunjungi daerah donggo (secara umum), tahun 2008 pertama kali saya menginjakkan kaki di daerah donggo O'O di sebuah tempat atau instansi pemerintahan bersama seorang sahabat masa SMP dan sekarang telah menjadi seorang mantan pacar saya, yang kedua adalah perjalanan sendiri mengelilingi daerah donggo memutar ke selatan dan berakhir di sila, yang ketiga adalah ketika kegiatan bersama kawan-kawan penggiat pendidikan untuk melaksanakan sebuah acara disebuah desa di donggo, sangari namanya, yang ke-empat adalah ketika saya berjalan sendiri lagi dan memilih jalan dari sila naik ke sangari dan turun melalui daerah bajo dan menyebrang ke pelabuhan bima menggunakan perahu boat, dan yang kelima adalah bersama kawan-kawan backpacker dengan tujuan ke beberapa tempat, yang salah satunya adalah areal persawahan yang memiliki struktur spiral (melingkar) di daerah donggo kala. lantas apa keajaiban-keajaiban lainnya dari daerah donggo ini sehingga saya bisa menyebut sebuah keajaiban? lebih jauh tentang donggo, alangkah baiknya kita membahas mengenai bima pada masa awal kerajaan dahulu kala, namun ketika kita membahas kerajaan dahulu kala, itu sama halnya kita membuka sebuah buku yang bernama BO SANGAJI KAI yang di susun oleh beberalpa orang yang pernah ada di DANA MBOJO sebagai sebuah literatur sejarah awal mulanya kerajaan bima.

View dari Uma Ncuhi (uma leme) ke arah timur

saya tidak akan membahas mengenai BO (babat / catatan) tersebut, karena itu sangat menyita waktu untuk menceritakan pengalaman saya tentang donggo nantinya, ya walaupun itu sangat bagus untuk di angkat dalam sebuah tulisan, namun saya memilih untuk tidak menulis berdasarkan babat tanah bima, saya akan menulis berdasarkans pengalaman saya tentang perjalanan saya ke donggo dan mungkin akan menjadi sebuah referensi para sahabat semuanya. perjalanan ke donggo (secara umum) dari bima kota ada beberapa jalur : 1. kota bima - bandara bima - sila - sangari mbawa (uma leme / uma ncuhi) membutuhkan waktu sekitar 1 jam 2. kota bima - pelabuhan bima - bajo - donggo o'o - donggo kala 1 & 2 - tolo pihi membutuhkan waktu sekitar 1 jam menggunakan kendaraan roda dua (motor) 3. kota bima - bandara bima - sila - tolonggeru (areal peternakan dan pemerahan susu kuda 88) sekitar 1, 5 jam perjalanan menggunakan kendaraan roda 4, 1 jam menggunakan kendaraan roda 2. 4. kota bima - bandara bima - sila - perbatasan bima dompu / rora (air terjun rora)-padende (areal produksi dan lahan produksi kopi padende) membutuhkan waktu sekitar 1 jam 45 menit menggunakan kendaraan roda 4 dan 1 jam 20an menit dengan kendaraan roda dua. dari ke-empat jalur tersebut, kita bisa melakukan perjalanan secara memutar jika hendak melakukan perjalanan secara lengkap ke wilayah donggo dengan jalur : 1. menggunakan kendaraan roda empat (kota bima - bandara - sila - bajo - soromandi - wadu pa'a - kembali ke soro mandi - tolo pihi - kala 2 - kala 1 - pasanggarahan - mbawa sangari uma leme - sila rato - tolonggeru - kembali ke madapangga - rora (perbatasan bima dompu) - air terjun rora - padende - turun kembali ke kota bima melalui sila dan ladang garam sondosia. 2. menggunakan kendaraan roda dua (kota bima - kolo - wadu pa'a - soromandi - tolo pihi - kala 2 - kala 1 - pasanggarahan - mbawa sangari uma leme - sila rato - tolonggeru - kembali ke madapangga - rora (perbatasan bima dompu) - air terjun rora - padende - turun kembali ke kota bima melalui sila dan ladang garam sondosia. itu merupakan gambaran kasar perjalanan menuju daerah donggo, namun bagi saya secara pribadi donggo merupakan sebuah surga kecil yang sangat susah untuk di deskripsikan dengan ribuan kata.

Ladang Garam area Sondosia Bima NTB

Perjalanan dimulai Wadu Pa'a wadu pa'a merupakan sebuah situs sejarah yang ada di bima, dibuat entah pada tahun kapan, namun menurut beberapa penelitian arkeologi, situs tersebut dibuat pada masa kejayaan hindu budha di indonesia. Situs Wadu pa'a merupakan sebuah prasasti Hindu dan Budha yang di ukir pada tebing batu kuarsa di sebuah teluk ujung utara Bima. para seniman Dana Mbojo merefleksikan Wadu Pa'a dalam sebuah syair lagu : "wadu pa'a ederu ra kohi" yang artinya dalam bahasa indonesia adalah "batu pahat di buat dengan cara di cungkil menggunakan jari" . namun lebih dari itu, penelitian-penelitian arkeologi belum mampu membaca secara seksama apa yang tertulis dalam prasasti-prasasti tersebut karena merupakan gabungan dari 3 bahasa, bahasa hindu, budha dan bahasa lokal Bima (lebih jelasnya silahkan buka Bo Sangaji Kai). _continue
Please follow and like us:
1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *