Madapangga, kisah usang tikus berdasi *

Hari yang cerah kata orang ketika menginjakkan kaki di tanah bima, semua tentang bima, tidak terkecuali hari yang cerah, ketika langkah sudah mulai di jejakan di tanah ini, panas membara adalah kata yang tepat sebenarnya untuk di katakan, bukan tampa alasan, iwan fals, sang legenda musik indonesia menisbahkan bima sebagai negeri 9 matahari karena panasnya memang luar biasa ketika beliau berkunjung ke bima tahun 2015 silam. Dari sekian banyak tempat yang ada di bima, ada secuil tempat yang menjadi sebuah lokasi pemandian umum yang dikelola oleh warga dan pihak pemerintah melalui BKSDA Wilayah III bima dompu, tempat yang selalu dilalui oleh setiap orang yang menggunakan kendaraan darat ketika dari mataram menuju bima, madapangga nama tempat tersebut.

sejarah usang madapangga

Sebelum saya bercerita lebih jauh tentang madapangga, ada baiknya kita mencari referensi terlebih darhulu dari mbah gugel tentang tempat tersebut. Madapangga terletak di wilayah kecamatan madapangga, madapangga sendiri merupakan gabungan dari dua kata, mada = mata, pangga = bertemu / baku temu / baku hantam, jika diartikan secara harfiah begitu saja, madapangga memiliki arti mata air yang bertemu di satu titik. Sekilas memang seperti itu keadaanya, ada sebeuah pohon beringin yang terletak di pinggir kawasan ini, tempat keluarnya mata air dari segala penjuru dan beremu di satu titik, masyarakat menamakannya MADAPANGGA atau MADA MA MPANGGA / MATA AIR YANG BERTEMU DAN TIDAK PERNAH AKUR. Ada apa sebenarnya madapangga ini? Kenapa ada yang spesial dari tempat ini hingga banyak orang yang mau datang kesini walaupun hanya untuk duduk berdiam diri seperti saya saat menulis ini, hanya duduk diam ditemani kopi dan tembakau lintingan pabrik, ternyata memang suasanya masih adem anyem tentram dan sedikit berisik suara kendaraan antar kota antar kabupaten dalam propinsi yang melewati jalan propinsi ini. Seperti kebanyakan tempat wisata alam yang ada di nusa tenggara barat, madapangga merupakan sebuah tempat yang dijadikan tempat wisata alam diwilayah bima-dompu selain TWA tofo yang berada di wilayah lambu (berbatasan langsung dengan lautan pulau kelapa, toromariam, dan pantai pink) TWA sangiang yang merupakan TWA gunung api di wilayah wera, dan TWA lainnya yang ada diwilayah Bima Dompu. Sejarahpun bercerita tentang madapangga, banyak ahli botani datang ke tempat ini untuk melakukan penelitian dan penginventarisan flora, karena memang madapanggga merupakan sebuah tempat yang kaya akan habitat obat-obatan dan lain sebagainya, bbahkan para peneliti bisa mengatakan bahwa madapangga adalah gudang obat herbal terbesar di nusa tenggara barat dari beberapa wilayah yang ada.

kawasan madapangga ketika musim cantiknya

Oh sebentar, saya belum mengatakan bahwa madapangga ini adalah TAMAN WISATA ALAM yang dibentuk oleh pemerintah melelaui beberapa SK menteri dan dirjen (saya tidak tau lengkapnya seperti apa, namun bisa di search di mesin pencari untuk hal tersebut) dan dikelola oleh BALAI KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM WILAYAH III BIMA-DOMPU dan memiliki luas lebih dari 500 Ha, lahan yang cukup luas untuk dijadikan sebuah tempat resapan air dan air baku untuk masyarakat sekitar. Umumnya, masyarakat sekitar wilayah TWA ini adalah masyarakat peladang, sehingga penjagaan wilayah TWA lumayan sedikit mengalami kesusahan oleh team penjaga dari BKSDA sendiri karena karakteristik masyarakat yang masih suka menjadi peladang berpindah. Tidak usah kita membahas hal tersebut, kita bahas saja madapanggga dari sisi wisata, kebersihan dan omset (sok gaya aku dengan bahasa tersebut), daripada kita pusing membaca lagi tulisan ini dan makan hati, alangkah baiknya kita melihat dari sisi positifnya saja untuk madapangga ini.

kawasan madapangga bagian bawah

Team national geographic indonesia pernah mengunjungi madapangga ketika mereka kebali dari doroncanga dompuu dalam rangka peringatan dua abad tambora tahun 2015 silam, mereka menorehkan catatan di website mereka tentang madapangga, hanya 3 paragraf kalau nggak salah, dan ketika saya melihat tulisan mereka, kecewa bercampur penyesalan langsung saya rasakan, madapangga tidak sebagus dan selengkap seperti puluhan tahun silam ketika para peneliti botani datang dan menginventaris jenis dan keberadaan flora di sini, national geographic menyebut bahwa madapangga sudah mati suri dan butuh sentuhan pihak ketiga untuk pengelolaan yang baik dan benar. Apa daya, pemerintah pusat melalui badan lingkungan hidup dibawah naungan menteri kehutanan tidak peduli dengan itu semua, pihak BKSDA pun hanya bisa berbicara lantang ketika para pengggiat pecinta alam melakukan push kepada meraka tentang kondisi madapangga, seperti 3 tahun silam, pihak BKSDA wilayah III bima-dompu mengadakan kegiatan TEMU KADER KONSERVASI BIMA DOMPU diwilayah madapangga ini, semua kader konservasi yang dibentuk oleh BKSDA propinsi NTB di undang untuk hadir di madapangga guna membahas keberlanjutan madapangga kedepannya, banyak yang dibicarakan di pertemuan tersebut, banyak masukan dari penggiat konservasi bahkan banyak ide yang telontar dari mereka kepada pihak BKSDA, namunn pada akhirnya, sampai tulisan ini terbit dan saya duduk di barugak yang sudah rusak di kawan TWA ini, tidak ada perubahan sama sekali dari itu semua, kosong plong tak ada bekas(lupakan itu, lebih baik kita berbaik sangka saja bahwa pemerintah tidak memiliki dana untuk pengelolaan madapangga yang lebih baik lagi).

Bima itu adalah identik dengan alim ulama, jika minuman kelas ini sudah merajai, apakah alim ulama masih ada??

Taman wisata alam madapangga masih memiliki beberapa area bermain, semisal kolam renang untuk anak-anak dan dewasa, namun semuanya seakan tidak terurus dengan baik dan benar, itu aset yang sangat berharga sebenarnya jika dilihat dari kacamata bisnis, aset yang sangat berharga ketika dikelola dengan baik, semisal hari ini, saya datang bersama dengan keluuarga besar alumni sekolah ayah saya, ditarik retribusi 5000 rupiah untuk sekali masuk per orang, jika sehari bisa masuk ke sini 100 orang saja, berapa penghasilan TWA ini dalam sebulan, dan jika TWA madapangga ini benar-benar menjaga kebersihan, akan lebih banyak lagi yang datang kesini untuk melakukan darma wisata bersama keluarga besarnya, karena memang tempat ini sangat cocok untuk hal tersebut. Sudahlah, kita kembali lagi ke wisata. Ada bebarapa penggiat pecinta alam yang datang kesini untuk melakukan beberapa riset kecil karena memang mereka mendapatkan referensi tempat yang cocok untuk penelitian botani dan satwa ya di madapangga, semisal team SINDIKAT FOTOGRAFER WILDLIFE BIMA-DOMPU, mereka melakukan riset kecil terhadapa habitat dan keberagaman satwa yang ada di madapangga, ada 34 jenis satwa burung yang ada di madapangga dan itu merukan jumlah yang bisa dikatan lumayan banyak untuk lahan sekecil ini, banyak satwa endemik dan satwa migrasi yang singgah dimadapangga sehingga cocok digunakan sebagai sample dalam sebuah penulisan artikel ataupun sebuah buku tentang satwa khususnya dunia perburungan di wilayah bima dompu.

ini sampah, bukan daunan pohon disekitar sumber mata air yang jatuh dan dikumpulkan, apakah bisa di olah lebih lenjut lagi?? kita tanyakan pada rumput yang bergoyang.

Selain team sindikat, team mapala dari beberapa kampus di bima juga melakukan beberapa riset kecil dan kerja nyata untuk kelangsungan ekosistim di wilayah madapangga ini, penanaman pohon dan pebersihan lingkungan TWA dilakukan oleh kawan-kawan PA kampus-kampus di bima-dompu karena mereka sadar, tempat ini adalah sisa untuk bertahan dari kepungan urban kota dan kabupaten yang sedang naik. Lantas bagaimana dengan keadaan TWA sekarang? Jika masih penasaran dengan keadaan tempat ini sekarang, silahkan berkunjung ke TWA madapangga, jika dari dompu, kawan-kawan bisa menggunakan kendaraan roda dua atau empat dan membutuhkan waktu sekitar 20an menit untuk sampai di kawasan ini, jika dari bandara bima menggunakan kendaraan roda dua dan empat, kawan-kawan bisa menempuhnya dengan waktu 30-45an menit untuk sampai. Kawasan yang memang strategis jika dilihat secara kasat mata, namun sangat meringis ketika sudah berkunjung ke sini. Ada sedikit yang menggelitik saya, hasl retribusi tersebut dikemanakan? Apakah untuk kesejahteraan karyawan atau pegawai pengelola TWA atau untuk penjagaan TWA yang dalam artian untuk pengelolaan lebih lanjut TWA ini? Atau??? ah sudahlah, jangan berbicara menganai uang, semua orang akan khilaf ketika berbicara hal tersebut.

keindahan yang ternod kata orang, apalah daya, retribusi hanya untuk sebagian kaum yang beriman saja.....good bye madapangga, nasibmu kini MENGHILANG di tengah peradaban manusia yang serakah.

Sampah yang berserakan disana sini, mata air utama yang diambil untuk kegiatan produksi air komersil sebuah perusahaan air minum kemasan, mata air yang begitu kotor dengan limbah bungkusan sabun dan odol serta lainnya, belum ditambah limbah bekas sabun hasil mandi masyarakat di mata air tersbbut shingga bisa dipastikan mata air ini sudah tercemar, lantas langkah apa yang dilakukan agar ini tidak berkelanjuta?? tidak ada, biarkan semuanya seperti ini dan kita akan lihat dua tahunn lagi, tempat ini sudah menjadi tempat sampah ataupun tempat pembuangan sampah.

air yang jernih?? ini bekas sabun mandi dan sabun cuci!!!! jernih dari hongkong!!!!

MADAPANGGA, KISAH KLASIK TIKUS BERDASI. *abdul azis gizan, team sindikat fotografer wildlfie bima-dompu merupakan anggota dari beberapa afliansi fotografer yang ada di bima dompu, pemerhati satwa khsusunya burung di alam liar.
Please follow and like us:
1

One thought on “Madapangga, kisah usang tikus berdasi *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *