Bandara, Panda, Jagung dan Pohon Galau.

“Andainya malam ini aku punya nyawa akan di cabut oleh tuhan, aku hanya ingin kau temani 1 menit saja untuk melepaskanku”

GHOST RIDER..... Dalam setiap kegiatan pacuan kuda tradisional di bima, adakalanya penunggan kuda tersebut tidakmsempat menaiki kudanya di garis start atau terjatuh di arena lintasan, namun pada kali ini, joki atau penunggang kuda tidak sempat menaiki kuda tunggangannya sehingga kuda tersebut tidak masuk dalam hitungan balapan, namun kuda tersebut akan terus berlari bersama kuda-kuda yang lain sampai garis finish dan akan di hentikan oleh orang-orang yanh berada di sisi lintasan balapan. itulah balapan tradisional bima. #wildlife #nature_perfection #natural #horseracing #horse #bnw_life #bnw_captures #bnw #blackandwhite #natgeoindonesia #natgeowildlife #sindikatwildlife #sonyindonesia #sonyjapan #sonyworld #sony #a77ii #70400G

A post shared by la hila (@gizan_hila) on

Dari sekian banyak kisah yang tertoreh di dana mbojo ini, ada beberapa kisah perjalanan yang memang mungkin sering terlupakan oleh sebagian pengunjung dan pembawa pengunjung di tanah bima ini untuk sebentar saja singgah di beberapa tempat di sepanjang perjalanan mereka, ada banyak yang mungkin bagi penduduk pribumi merupakan sebuah tempat yang biasa saja, namun bagi sebagian orang, tempat tersebut adalah tempat yang sangat bagus dan istimewa jika di poles sedemikan rupa. Mulai dari yang pertama ketika kita menginjakkan kaki di bima melalui jalur udara, kenapa saya memilih jalur udara, karena akhir-akhir ini para pejalan di seluruh nusantara lebih memilih jalur udara untuk mengunjungi destinasi wisata di indonesia daripada menggunakan jalur darat baik dengan bus malam atau bus antar kota antar propinsi atau antar kota dalam propinsi (yang terakhir ini khusus untuk propinsi yang memiliki pulau-pulau saja sepertinya, layaknya pulau sumbawa dan lombok, pulau – pulau di nusa tenggara timur dan yang lainnya) ataupun menggunakan jalur laut yang memang merupakan jalur terlama untuk mengunjungi sebuah tempat wisata. Bandara bima yang terkenal dengan nama bandara sultan muhammad salahuddin, yang diambil dari nama sorang sultan di tanah bima yang memerintah bima pada masa penjajahan belanda dan jepang, saat ini semakin ramai dibanding dengan 3 tahun yang lalu, dengan arsitektur yang masih menggunakan unsur NGGUSU WARU di bebarapa bagian, bandara bima menjadi sebuah ikon tersendiri ketika wisatawan datang ke bima. O iya, kita membahas pariwisata dari sisi penulis ya, bukan dari sisi literatur sana sini, yang penting nulis tampa menggunakan tombol delete. Ketika wisatawan sudah keluar dari area kedatangan bandara (kecil) bima, akan di suguhi oleh teriakan para sopir taksi (taksi di bima menggunakan mobil keluarga semisal mobil keluaran toyota dan honda, jarang menggunakan merek dari chevrollet ataupun sebagainya, bahkan tidak ada mobil sport di bima, yang ada adalah kuda sport atau kuda pacuan (ah sudahlah, tidak usah bahas kuda, ntar melebar jauh kesana kemari) dan itu di dukung oleh prasarana jalanan yang tidak memadai untuk mobil sport, jalanan yang masih bergelombang dan lain sebagainya. Jika tidak ada yang menjemput, kita bisa berbicara dengan sopir taksi tersebut untuk nego harga, banyak harga yang dipatok oleh sopir taksi tersebut, mulai dari 200 ribu sampai dengan 700 ribu hanya untuk ke pusat kota bima tergantung banyak muatan, namun rata-rata dari bandara bima ke pusat kota bima harga sewa taksi antara 200 ribu sampai 250 ribu. Bandara, panda, jagung dan pohon galau. Konspirasi apa yang akan terjadi ketika kata itu diucapkan menjadi kalimat, waooo adalah kata yang pantas untuk keluar dari bibir kita, bandara bima menyimpan surga tersembunyi untuk para lanscapers (pecinta foto alam raya), dengan lokasi yang berada di antara tambak garam dan tambak udang, ketika matahari menjadi 9 di bima, tempat tersebut adalah tempat terindah untuk melukiskan cantiknya warna petak tambak garam dari atas udara sebelum mendarat di bandara bima, di tambah dengan jalanan yang berkelok seperti sebuah sirkuit balapan di pinggir pantai sydney sana, peraduan yang indah rupanya bagi mata yang jeli melihat. Panda, silahkan cari di google dengan keyword panda bima, akan bermunculan di layar anda gambar pacuan kuda dengan joki cilik dan segudang cerita tentang merak yang tangguh, yang melawan bahaya hanya untuk sebuah pertarungan gengsi pemilik kuda dan sedikit judi terbuka di arena pacuan, panda adalah nama sebuah desa yang berjarak 2Km dari bandara bima, panda bukan sejenis hewan, namun itu adalah kampung para pendidik kuda terbaik yang ada di bima, dengan jumlah penduduk melebih satu suara untuk duduk di DPR kabupaten bima panda sebenarnya sudah masuk dalam lingkaran international.
Namun sebelum sampai daerah panda, cobalah singgah terlebih dahulu di area perbukitan jalan lintas bandara – panda (jalur potong), tepat setelah tanjakan pertama di sebuah bangunan yang dijadikan stasiun meteorologi dan antariksa bima kita akan di suguhkan view lanscape ketinggian untuk menikmati indahnya senja yang akan masuk ke peraduan.
Kita tinggalkan masalah kuda dan joki cilik serta panda secara umum, karena memang banyak yang membahas desa panda dari berbagai sudut bahkan dari berbagai macam kata dan saya rasa itu sudah mewakili ketika bertandang ke panda, namun satu hal yang jarang bagi pendatang ketika masuk ke desa panda, di ujung jalan dari desa panda (depan pom besin panda) akan banyak berjejer lapak, bukan lapak baju atau celana atau barang bekas, namun lapak jagung rebus, jagung bakar, kelapa muda dan srikaya serta hasil alam lainnya layakanya ubi kayu, mangga, pepaya dan sebagainya. Tentang jagung rebus dan jagung bakar, pikiran kita akan menuju pada jagung yang berwarna merah yang direbus dengan kulitnya atau dibakar menggunakan bumbu yang memiliki rasa ini dan itu, ooo tidak, jagung di panda tidak seperti itu, warnya putih bersih, direbus tama kulit, dibakar tanpa bumbu-bumbu ini dan itu namun jangan pernah berpikir tawar rasanya, rasain dulu baru komen karena saya sedikit susah mendeskripsikan rasa dari jagung tersebut. Orang bima pada umumnya menyebut jagung itu adalah “jago leke” didalam bahasa indonesia “jago” berarti “jagung” dan “leke” berarti “sepet”, namun bukan sepet karena keselek namun itu hanya sebuah nama yang biasa di sebut oleh orang bima dan pada umumnya, masyarakat bima menyebut jagung ini dengan sebutan “jago fare keta”. Pada jaman sebelum jagung hibrida terkenal di bima dan dompu, jagung fare keta merupakan salah satu tanaman wajib di ladang-ladang masyarakat yang ada di kaki bukit ataupun yang berada di lereng-lerang pegunungan serta areal persawahan, merupakan bahan makanan pokok yang akan di campur dengan beras, tidak usah menanyakan rasanya, yang pasti minta tambah terus ketika nasi jagung ini sudah di tanak, namun sekarang, masyarakat bima sudah tidak lagi menggunakan jagung sebagai bahan campuran dengan beras untuk dimasak, meraka sudah menggunakan beras 100% sehingga bersyukurlah generasi terakhir yang merasakan nikmatnya beras yang dicampur jagung dan di tanak sebagai nasi pada tahun 90an, maka bersyukurlah para genarasi 90an yang masih bisa menikmat nikmatnya suguhan “menta latu ro witi”, maka bersykurlah generasi tersebut masih bisa merasakan nikmatnya beras yang di tumbuk dengan lesung dan alu bukan dengan mesin otomatis yang memakan waktu tidak sampai 10 menit maka beraspun jadi namun tidak memiliki aroma dan rasa yang khas jika dibandingkan dengan yang disebutkan sebelumnya. Bagaimana dengan pohon galau?
Sebenarnya pohon galau adalah dua buah pohon yang berdiri berjejer di sebuah areal tambak bandeng daerah pinggir jalan area panda tepatnya areal penjualan jagung rebus dan jagung bakar yang disebutkan diatas, kenapa harus dikatakan galau padahal pohon tersebut ada dua buah, searusnya galau itu adalah ketika sendiri dan merasa kehilangan atau merasa rindu yang tak tertahankan sehingga menimbulkan ekspresi yang tidak wajar dalam diri seseorang? Ceritanya sangat panjang, saya dan beberapa kawan-kawan merupakan penjelajah wilayah, banyak wilayah yang kami datangi di daerah bima namun tidak kami ekspose secara berlebihan karena dikhawatirkan terjadinya boom pengunjung di daerah tersebut dan tidak bisa menjaga kebersihan dan kenyamanan daerah tersebut nantinya, kami hanya memendan beberapa dokumentasi untuk konsumsi pribadi, namun ada beberapa dokumentasi yang sempat kami terbitkan ke sosial media dengan menggunakan hastag yang rada aneh-aneh, untuk pohon galau kami menggunakan hastag #pohongalau sehingga lama kelamaan banyak yang ingin mengetahui tempat tersebut dan ingin berkunjung ke tempat tesebut hanya untuk numpang dokumentasi atau hanya untuk mejeng bersama kawan-kawan. Pohon galau sering kami jadikan sebagai tempat share ide untuk beberapa kegiatan, tempat menginap melepas penat bersama kawan-kawan dan masih banyak hal lain yang kami lakukan disana ketika tempat tersebut belum hits seperti sekarang, tempat yang nyaman bagi kami untuk saat itu dan sampai sekarang di waktu-waktu tertentu saja, namun tidak menutup kemungkina, pohon galau akan menjadi sebuah cerita dan kenangan saja karena di sepanjang sisi tempat tersebut sudah dibuatkan jalan lintas propinsi, kemungkinan paling besar, areal pohon galau akan di gusur menjadi sebuah areal perumahan atau areal perkantoran dan areal perumahan, SELAMAT TINGGAL POHON GALAU, TERIMAKASIH. Bima, merupakan sebuah tempat yang penuh dengan kejutan disepanjang perjalanan dan di langkah pertama kita menjejakinya, bima adalah sebuah ritual, bima adalah sebuah sejarah, bima adalah negeri keinginan, bima adalah negeri harapan bagi sedikit rasa, bima adalah wajah indonesia. Bima itu mbojo. *gizan
Please follow and like us:
1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *