Donggo #2

pada tulisan pertama, saya mengupas sedikit tentag donggo yang setaunya saya saja, ya setau saya, bukan setau dia atau mereka, hanya sebatas pengetahuan saya tentang willayah donggo yang sempat saya kunjungi waupun itu hanya sepenggal cerita yang saya dapatkan. Tulisan pertama saya tentang donggo pernah saya publish juga di mangga3bima.wordpress.com ketika dahulu pernahke wilayah donggo mbawa tepatnya di sangari untuk sebuah kegiatan bersama kawan-kawan penggiat pendidikan dengan membawa bendera KELAS BERMAIN KREATIF BIMA (KBKM) yang mana kegiatannya adalah bermain dan belajar bersama anak-anak SD di sangari. ketika mengupas donggo, banyak hal yang menjadi daya tarik tersendiri dari berbagai sisi, keberagaman yang ada di sana tidak bisa digambarkan dengan kata-kata yang biasa saja, keindahan yang ada di sana tidak bisa di nikmati secara singkat, sejarah yang ada disana tidak bisa di bingkai dalam satu artikel, ya semuanya begitu kompleks dan begitu berasa berbeda dari lainnya, entahlah dengan daerah lain yang ada di bima ini, ada perbedaan yang sangat jelas di donggo, bahkan bisa dikatakan sebuah barometer kehidupan pegunangan dan perbukitan yang begitu banyak diartikan.

Refleksi uma leme (uma ncuhi donggo mbawa)

Namun sebelum membahas lebih jauh tentang donggo, Bima memiliki satu magnet yang tidak bisa disepelakan oleh para pelancong dari luar, kita akan kupas atu-satu tentang itu, dan dimulai dari sekarang ..... PANDA, PACUAN KUDA DENGAN JOKI CILIK Bima tidak mengenal kata menyerah dalam melakukan semua kegiatan yang dirasa itu adalah benar, jangankan benar, salahpun masih dilakukan, semisal pacuan kuda yang berubah menjadi arena judi terbuka bagi masyarakat pecinta judi pacuan, tidak tanggung-tanggung, ketika perhelatan pacuan kuda dimulai pada setiap tahunnya (sekali setahun secara resmi di buka oleh plat merah), masyarakat dari seluruh penjuru bima akan datang untuk menyaksikan perhelatan tersebut, dan banyak diantara mereka yang mengadu nasib melalui judi, bisa diperkirakan peredaran uang judi ketika perhelatan tersebut dalam sehari bisa mencapai milyaran rupiah, itu yang nampak, yang tidak nampak malah lebih besar dari itu. tidak usah kalau begitu kita membahas tentang perjudian, tidak ada gunanya bagi kita yang tidak suka judi dan semisal hal tersebut, lebih baik kita membahas bagaimana pacuan kuda dibima berasal dan dari mana saja pesertanya serta siapa yang menjadi jukinya dan siapa pemilik dari kuda-kuda tersebut. asal muasal pacuan kuda bima pacuan kuda bima merupakan sebuah perhelatan akbar di kabupaten dan kota bima yang diselenggarakan di sebuah tempat atau arena pacuan kuda yang dibuat oleh pemerintah kabupaten bima, Panda nama tempatnya, berjarak 3 menit dari bandara bima, lahan yang sangat luas untuk dijadikan sebuah arena pacuan kuda, pada awalnya, pacuan kuda bima merupakan sebuah perhelatan puji syukur kepada tuhan karena Bima diberikan hewan-hewan yang kuat yang mengangkut hasil pertanian dan perladangan dari lahan pertanian yang cukup jauh dari tempat tinggal, selain itu, bima merupakan lumbung kuda yang begitu bagus untuk dijadikan kuda perang dan kuda tunggangan (kendaraan para raja) sehingga kuda bima di eksport keluar daerah dan dijadikan kuda-kuda kesatria pada masa penjajahan belanda, jawa dan sumatera merupakan area eksport kuda-kuda bima, Pangeran Diponegoro menggunakan kuda dari bima untuk dijadikan kendaraan perangnya (menurut sebuah literatur). Sejak Abad XII Masehi, kuda asal Bima sudah tersohor di Nusantara. Saat itu, para pedagang dari berbagai penjuru datang membeli kuda bima, kemudian dijual di negeri asalnya untuk dijadikan tunggangan para raja, bangsawan, dan panglima perang. Raja-raja dan panglima perang Kerajaan Kediri, Singosari, dan Majapahit, dalam buku Negarakertagama karangan Empu Prapanca, juga selalu memilih kuda bima untuk memperkuat armada kavalerinya. Saat sekarang, pacuan kuda di bima atau yang dalam bahasa daerahnya PACOA JARA dijadikan sebuah event budaya tahunan dan agenda tahunan dari dinas pariwisata bima dan tetap ada sampai saat sekarang. Sebelum perhelatan pacuan kuda diselenggarakan, pada hari kamis dan minggu, kuda-kuda yang akan di perlombakan dalam event tahunan tersebut akan dilakukan training (trene - bahasa bima) untuk menguji kesiapan kuda-kuda tersebut sebelum turun ke arena sampai seminggu sebelum event dilaksanakan. sebenarnya bukan hanya training kuda pacuan yang dilalukan pada waktu - waktu tenggang tersebut, namun ada juga pacuan gerobak (semacam dokar namun tidak ada atapnya) yang ditarik oleh kuda-kuda pacuan tersebut juga, semacam karapan sapi di madura dan barapan kerbau di sumabawa, namun di bima menggunakan tambahan kendaraan berupa gerobak. peserta pacuan kuda bima (pacoa jara) Peserta pacuan kuda yang diadakan sekali setahun di desa Panda Kabupaten bima merupakan warga yang berada di seluruh wilayah pulau sumbawa, mereka berkumpul disana dari berbagai elemen dan watak mereka, sape dengan segenap ilmu kanuragannya, Wera dengan segala "sanggilinya", woha dengan segala kekuatan besinya, sila dengan segala panasnya, dompu dengan segala kerendahan hatinya, sumbawa dengan segala keindahannya. Ada warna tersendiri ketika mereka sudah berkumpul di satu lokasi pada event tersebut, semua ego mereka tinggalkan di rumah masing-masing, mereka datang untuk berkompetisi dan menjadi nomor satu atau bahkan menjadi yang terbaik walaupun bukan nomor satu dalam kesempatan pacuan, lebih dari itu, mereka berlomba agar nama majikan mereka dikenal sampai se-antro bima sumbawa bahkan indonesia. ada seorang kawan dari seberang jauh sana yang membuat sebuah buku tentang pacuan kuda, mulai dari A sampai Z dia visualisasikan dalam gambar hitam putih ataupun warna, sebuah buku yang begitu serat akan makna jika dilihat dengan kacamata seni dan kacamata sejarah "Riders Of Destiny" merupakan sebuah representasi visual yang sangat jelas tergambarkan dari sisi seorang fotografer handal indonesi "Romi Perbawa" juki pacuan kuda bima juki atau dalam bahasa indonesia bakunya joki merupakan seorang penunggang kuda handal dalam sebuah pacuan, dilatih untuk mengendalikan kuda tunggangan dengan baik dan benar, diberi sebuah ilmu dalam mengendarai kuda pacuannya dengan sempurna, seluruh dunia, joki pacuan kuda adalah orang dewasa yang berumur diatas 18 tahun dengan postur badan yang sedikit ramping karena pertimbangan berat beban yang akan dibawa oleh kuda pacuan sehingga kuda bisa melesat dengan cepat dan sempurna. Bima merupakan bagian dari dunia, masuk dalam peta dunia, dan masuk dalam peta indonesia tentunya, masyarakat yang keras yang dibentuk dari ladang dan sawah yang keras menjadikan manusia-manusianya sekeras batu namun berhati lembut selembut sutra (hanya kiasan saya saja), namun pada ahir-ahir ini, bima sangt identik dengan perang antar kampung, layaknya perang perebutan tahta dan harta, namun sebenarnya bukan hal tersebut yang memicu perang antar kampung tersebut, ada hal-hal mendasar yang menjadikan pertikaian mereka, semisal tidak terimanya orang tua karena anaknya di ganggu di jalan saat kembali dari sekolah atau hal sepele lainnya, yup tulah bima terkini versi media masa. Akan sama halnya dengan juki cilik ini, banyak yang menjadikan bima sebagai destinasi wisata terutama dengan adanya pacuan kuda dengan joki ciliknya, pada waktu-waktu tertentu, pacuan kuda menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan asing maupun domestik. Ada satu cerita ketika saya dan seorang kawan sedang menyaksikan pacuan kuda (training pacuan) di lintasan pacuan kuda daerah panda bima, anak-anak yang menjadi juki tampa menggunakan perlengkapan standar keamanan hanya meenggunakan helm standar yang tidak begitu aman melesat secepat kilat dengan kuda pacuannya, di tengah lintasan, dua orang anak terjatuh dari kuda tunggangannya dan sempat di injak oleh kuda yang berada dibelakangnya, namun entahlah, dua orang anak ini seakan tidak merasakan apa-apa, hanya sedikit meringis, dan secepat mungkin orang tua mereka datang untuk menolong dan mengangkat kedua joki tersebut dan membawa mereka ke pinggir arena, kedua orangtuanya memeriksa keadaan anak-anak mereka dan dipastikan tidak terjadi apa-apa sama mereka, secepat itu pula, kedua anak tersebut kembali ke garis star untuk menunggangi kembali kuda yang lain dan melanjutkan pacuan. Entahlah, adigunaka macam apa yang mereka gunakan, ilmu macam apa yang mereka pakai untuk tidak bisa merasakan sakit ketika kaki kuda menginjak mereka, dan itu adalah salah satu spesialnya pacuan kuda bima, masih banyak cerita serupa yang terjadi di arena pacuan, sangat susah dijelaskan dengan logika biasa, sangat susah di ceritakan secara lengkap apa yang terjadi disana tampa melihat langsung kejadiannya, dan bisa dipastikan kejadiannya sangat cepat. kuda bima kuda bima, dari jaman majapahit sampai dengan sekarang masih merupakan sebuah pilihan pada kegiatan pacuan kuda tradisional di bima maupun dijadikan alat transportasi bagi masyarakat untuk keperluan pertanian dan lain sebagainya. Untuk pacuan, kuda yang digunakan bukan hanya kuda asli yang ada di bima, namun sudah menggunakan kuda blasteran dan kuda-kuda yang didatangkan dari nusa tenggara timur, khusus untuk kuda yang berasal dari nusa tenggara timur, untuk mendatangkan ke bima digunakan perahu boat (boat nelayan) bukan menggunakan kapal cargo, namun ada sebagian yang mendatangkan kuda-kuda tersebut menggunakan kapal fery. Tolopihi the ricefield of spider setelah menyaksikan pacuan kuda yang diadakan di daerah panda kabupaten bima, kita mungkin akan menyaksikan sebuah keajaiban di tanah bima yang sangat jarang orang temukan bahkan bisa diabaikan dengan mudah dan gampang, sebuah keajaiban yang jarang orang melihat dengan baik dan benar bahwa di situ ada sebuah potensi yang sangat besar, potensi yang bisa mendatangkan pemasukan yang sangat luar biasa bagi masyarakat yang ada di sekitar tempat tersebut, bukan di nuusa tenggara timur sana, tapi ini di donggo, tanah para leluhur, tanah yang penuh dengan dongeng akan sebuah kepercayaan yang bisa dikatakan mustahil bagi sebagian orang, namun ternyata memang benar dan nyata. Jika di dompu ada yang namanya karamabura, diman alahan tersebut adalah lahan terasering di sebuah desa yang berada di dompu, begitu booming dengan banyaknya foto dan video yang dihasilkan koleh beberapa kawan-kawan fotografer dan videografer dan merupakan sebuah destinasi bagi para pelancong dan bloger untuk didatangi karena memang tempat tersebut dekat dengan pusat pemerintahan kabupaten dompu, lahan terasing yang sangat banyak di daerah timur indonesia. Di NTT sana ada sebuah lahan terasering yang dibentuk oleh warga menyerupai sarang laba-laba, ricefield spider atau sawah laba-laba, lantas apa yang ada di bima khususnya daerah donggo, ternyata ada sebuah tempat yang disebut oleh warga sebagai TOLO PIHI, atau dalam bahasa indonesianya adalah SAWAH YANG BERPUTAR, wao, ya memang waooo untuk pertama kali melihatnya namun ketika diperhatiakn dengan jelas dan baik, ternyata tolo pihi di bentuk agar air yang dari atas bisa tertahan dan di alirkan lagi kebawah dengan baik, ya kira-kira seperti itulah, dan banyak masyarakat di bima belum melihat potensi yang ada tersebut untukk dijadikan sebuah destinasi pariwisata yang sangat menguntungkan. Menguntungkan dari sisi masyarkat dan sisi pemerintah serta sisi sosial lainnya, ketika pariwisata digarap dengan baik dan benar, otomatis usaha mikro yang berada di masyarakat sekitar akan ikut terbantu, ketika pariwisata di bentuk dengan baik dan benar, otomatis konflik yang ada didalam masyarakat akan surut dengan sendirinya, tergantung sungguh dari pemerintah setempat dan masyrakat apakah sudah siap menerima wisatawan yang datang atau bagaimana. Potensi yang ada di wilayah bima kkabupaten dan kota sungguh sangat luar biasa, namun masih belum bisa digarap dengan sempurna. Sudahlah, tidak usah dibahas secara berkepanjangan, tidak usah dibahas dengan sungguh-sungguh karena memang pariwisata dibima untuk 2 tahun akan datang tidak ada harapan sama sekali, kenapa tidak ada harapan, karena memang destinasi yang berada di beberapa lokasi sungguh sangat susah di akses oleh beberapa kendaraan, jikapun bisa diakses, hal utama yang menjadi kendala adalah keamanan, kemanan yang diberikan oleh masyarakat setempat kepada para pengunjung tempat tersebut. Uma leme, the legend of ncuhi apa yang terpikirkan oleh kita ketika disebutkan sebuah legenda, pastinya akan banyak berseliweran sebuah cerita mitos yang sungguh ajaib yang sampai saat sekarangpun akan terus di ingat oleh generasi, generasi yang akan datangpun akan mengingatnya, bukan saja sekarang, ya bukan saja sekarang. Bima, dengan sebuah legenda yang sangat dahsyat, dari sisi manapun mengupas bima tidak akan pernah habis, mengupas bima (mbojo) tidak akan berhenti pada satu keputusan dan kesimpulan, tidak akan pernah berhenti sampai semua orang yang ada akan mhabis dalam artian kiamat besar terjadi di dunia ini. Kenapa dengan bima, ada apa dengan bima, mengapa harus dengan bima? Semua pertanyaan itu tidak akan pernah terjawab dengan baik dan benar, tidak akan pernah ada sebuah jawaban yang bisa benar-benar menjadi sebuah jawaban yang layak dijadikan jawaban, entahlah, kenapa dengan bima (mbojo)? Ada satu cerita yang saya dapatkan ketika bertanya hal tersebut ke beberapa orang tua yang diatas 80 tahun umurnya “nak, mbojo itu adalah sebuah nama yang diberikan tuhan, mbojo itu sebuah rahasia yang tidak akan dengan mudah untuk di ungkapkan dengan kata-kata, mbojo itu adalah sebuah pengalaman yang tak ada di dunia lain, mbojo itu adalah kamu” “kamu” ya kata kamu didalam sebuah ungkapan adalah kata pamungkas yang sangat susah dijadikan sebuah patokan untuk mengambil sebuah jawaban, sangat susah dijadikan sebuah landasan untuk mendefiniskan segalanya tentang sesuatu, namun sudahlah, ini akan tetap menjadi sebuah cerita bagi saya secara pribadi. Uma leme adalah sebuah istana (pada jamannya) yang dijadikan oleh seorang ncuhi (kepala adat, kepala desa, gelarang atau tetua) sebagai rumah peristirahatan dikala lelah dan sebuah rumah yang dijadikan tempat pengambilan keputusan bersama, dengan bentuk yang menyerupai uma lengge, uma ncuhi atau uma leme adalah sebuah warisan budaya yang seharusnya dijadikan sebuah aset yang sangat berharga di daerah bima. Uma leme sampai saat sekarnag masih berdiri kokoh walaupun ada beberapa bagian yang sudah direnovasi dengan bahan-bahan yang seadanya dan bahan-bahan yang sudah modern, namun arwah dari uma leme bagi yang bisa merasakannya masih penuh dengan mistis, mistis yang benar-benar mistis yang tidak ada di tempat lainnya di tanah mbojo ini. Uma leme yang direnovasi oleh siapapun itu merupakan saksi sejarah tanah Mbojo, saksi sejarah kemerdekaan, saksi sejarah islam masuk di wilayah Mbojo, meski sedikit yang mengetahui hal tersebut dalam sejarah. *gizan
Please follow and like us:
1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *