JOE, AKU MASIH BERCERITA UNTUKMU SAHABAT

Joe, Aku Masih Bercerita Untukmu Tentang Kotaku.

Hai joe, aku telah menulis di salah satu web publikasi seperti yang kau sarankan dahulu joe, apa kabarmu sekarang? masih sehatkah sahabat? atau jangan-jangan kumis kau makin panjang saja joe. Kemarin lusa si tongseng jamu datang ke bima joe, kau taulah dia seperti apa, datang dan pergi sesuka hati dan meninggalkan jejak yang tak bisa dibayangkan bagaimana jadinya nanti joe.

Joe, aku pikir kau akan menjadi orang lombok nanti joe, tidak rindukah kau akan kampung halaman joe sampai-sampai kau betah untuk tinggal di lombok, padahal lombok dan bima jaraknya hanya 12 jam perjalanan darat joe, itu jika kau menggunakan bus AKDP, namun jika kau menggunakan truck fuso seperti yang kau lakukan selama ini, pastinya jarak itu akan menjad 4 kali lipat joe.

Sumber: Dok. pribadi (Masjid agung Al-Muwahiddin bima yang terbengkalai dan sedang di rehab, salah satu landmark bima)

Joe, aku rasa kita hidup di dunia yang penuh dengan abu-abu, abu-abu tidak jelas antara hitam dan putih, bahkan warna ungu saja tidak ada jelas sama sekali joe, dunia ini begitu seram aku rasa sekarang joe.

Joe, kapan kau akan menikah sahabat? joe, kalau tidak salah, ini ceritaku yang kedua untukmu sahabat, entah kenapa aku selalu ingin menulis untukmu, tidak tahu kenapa, namun yang pastinya, aku selalu ingin menggerakan jemari ini di tuts hanya sekedar ingin berbagi cerita denganmu joe, ya berbagi cerita denganmu sahabatku.

Kemarin aku sempat mengunjungi salah satu tempat di lombok joe, untuk menghadiri undangan seorang kawan dan mengikuti kegiatan di salah satu tempat di dekat pantai sebelah utara, tempat yang lumayan bagus aku rasa, pengelolaan yang sudah bagus juga aku rasa, dan kesadaran warga yang cukup tinggi juga sudah terbentuk aku melihatnya joe, namun aku tak tau apa pendapatmu tentang tempat itu joe, bagiku, hutan disana sudah menyuguhkan keragaman satwa yang begitu sempurna, begitu beragam dan lain sebagainya, sampai aku tidak ingin pulang untuk beberapa saat ketika sudah sampai disana.

Sumber: Dok. pribadi (sudut jalan protokol depan mangga3 yang sedang diperbaiki saluran air pembuangannya, debu berhamburan setiap hari)

Namun bukan cerita ini yang ingin aku ceritakan padamu joe, aku ingin bercerita padamu tentang abu-abunya dunia ini, dunia tempat kita berpijak ini dengan segala macam tingkah pola manusia yang ada, terutama akhir-akhir ini, sungguh menggelitik rasanya melihat urbanisasi di kota kecilku ini begitu sangat pesat bahkan bisa dikatakan lost control.

Kemarin aku bercertita sedikit padamu tentang panasnya Bima joe, bukan saja udara, namun manusiannya juga sangat membara panasnya, jika aku bandingkan dengan matahari, di kota dan kabupaten aku ini joe, matahari ada sembilan aku rasa, begitu panasnya sehingga dengan hilangnya sebuah Handphone saja bisa menghilangkan nyawa 2 orang manusia yang sedang panas membara juga.

Sekarang joe, dikotaku ini, kota bima yang kau kenal dengan kota kubangan air karena terjadinya bencana tanggal 21 dan 23 desember 2016 tahun lalu, aku begitu terpesona melihat perkembangan yang sangat pesat, bahkan aku bilang perkembangan yang sangat drastis pesatnya, pembangunan dimana-mana, perbaikan dimana-mana bahkan pembunuhan ada dimana-mana dikotaku ini, apa hubungannya perkembangan kota dengan pembunuhan joe, bagiku ada sedikit hubungannya.

Pembunuhan yang aku maksud di sini bukan hanya pembunuhan karakter manusia, namun pembunuhan yang benar-benar pembunuhan dalam arti yang sebenarnya yaitu menghilangkan nyawa manusia dari raganya, ya pembunuhan di kota ini sungguh merajalela joe, aku miris melihatnya.

Pembunuhan karakter manusia di kota ini sudah mulai terasa, karakter orang bima yang begitu patuh pada tuhan, malu terhadap kesombongan dan kemunafikan serta malu terhadap perbuatan yang tidak baik di muka umum sudah mulai bahkan sudah hilang, karakter siapa joe, karakter anak muda yang aku lihat, anak muda yang berumur 18 s/d 27 tahun bahkan ada sedikit yang diatas itu sudah tidak ada lagi yang bisa membedakan siapa kamu dan aku, mereka sudah terbiasa dengan “cou nggomi cou nahu” yang dalam bahasa indonesianya “siapa kamu siapa aku, urus saja urusan pribadi masing-masing, jangan saling menyinggung dan jangan saling mengingatkan” itu sudah ada di pribadi anak-anak muda kota dan kabupaten bima sekarang joe.

Setiap malam, salah satu alun-alun di kota ini begitu padat merayap joe, jika aku bandingkan 2 tahun silam joe, alun-alun itu adalah alun-alun yang begitu sepi dan sangat asik untuk melepas penat bersama sahabat, namun sekarang, jangankan melepas penat, untuk melewatinya saja aku sudah muak rasanya joe, kau tau tempat itu kan joe, ya, tempat itu bernama lapangan serasuba atau lapangan merdeka orang bima menyebutnya.

Bukan hanya di lapangan serasuba pusat keramaian anak muda kota ini joe, namun di beberapa tempat juga, contoh kecilnya adalah sepanjang jalan pinggir pantai amahami, disana tempat untuk duduk bareng para anak muda kotaku joe, namun sama saja halnya dengan lapangan serasuba joe, tidak nyaman lagi sekarang, apalagi sekarang sedang proses pembangunan masjid terapung di disana yang anggarannya melebihi ekspektasi masyarakat awam, angka yang sangat fantastis aku rasa joe, dan jika angka itu digunakan untuk kelanjutan pembangunan masjid agung Al-Muwahiddin, aku rasa akan selesai dalam hitungan hari saja, namun, aku, kamu dan pemerintah beda cara pandang joe, aku sebagai masyarakat menerima saja, kamu sebagai sahabatku joe, pasrah saja, biarkan pemerintah melakukan apa yang meraka pikir itu bagus untuk rakyatnya.

Sumber: Dok. pribadi (salah satu landmark kota bima, gedung walikota, dilihat dari kejauhan layaknya gedung putih di seberang sana, namun ini adalah simbol kekuasaan di kota bima)

Di sepanjang jalan protokol kotaku joe, sekarang sudah banyak anak muda yang duduk bersama, entah apa yang mereka lakukan sampai tengah malam, bukan hanya lelaki saja, namun ada yang perempuan juga, dahulu joe, ketika aku masih seumuran mereka, aku tidak membantah aku sudah tua joe, aku sebagai lelaki yang masih dalam keadaan labil pada umur-umur seperti itu, setelah magrib dan aku tidak pulang kerumah, aku akan dicari oleh mamakku joe, orang tuaku tidak memberikan kebebasan yang begitu banyak kepadaku joe sampai aku benar-benar bisa mempertanggung jawabkan semua perbuatanku dihadapan ayah dan ibu serta tuhanku joe, namun sekarang, anak-anak dibawah umur sudah begitu leluasa untuk bermain sampai larut malam, kata orang bima “janga ka na wa’ura si lu’u magri na dula aka uma na, watisi dula na, na lao tio ba dou mantauna niki wombo ro sanga haju ta uma kompe ro pei na, ake ana na ma da dula sambia ro sabala ai ti kone lao ngupana, de na meci pu janga pala ana na dou doho ke” jika aku artikan dalam bahasa indonesia joe “ayam, jika tidak pulang pada sore hari di kandangnya akan dicari oleh tuannya di setiap kolong rumah dan dahan kayu atau rumah tetangganya, namun anaknya yang pergi seharian bahkan semalaman tidak pernah di cari, apakah ayam lebih berharga dibanding anak manusia?”

Entahlah joe, bagiku itu adalah pembunuhan karakter yang nyata di kota kecilku ini, kota yang berkembang dengan tatanan yang dipikirkan oleh pemerintah bahwa kota ini sungguh ini, di luar dari itu semua, kota ini sungguh bobrok rupanya, bagaimana tidak aku katakan seperti itu, saat sekarang joe, aku sedikit khawatir untuk perkembangan keponakanmu, umar dan husnul yang ku maksud, bagaiman kehidupan mereka nantinya, bagaimana pergaulan mereka nantinya itulah yang membuat aku khawatir sekarang, namun rasa khawatir itu sedikit terobati dengan hadirnya kalian di perjalanan hidup aku, bukan aku menyerahkan tanggung jawab aku pada anak-anakku ini pada kalian, aku hanya menitipkan pada kalian, jaga keponakan kalian agar menjadi orang-orang yang peduli terhadap sesama dan respect terhadap sesama ketika terjadi masalah dan bencana, ya seperti kehidupan kita joe, kau sudah melalang buana ke beberapa tempat di negeri ini, menemukan orang-orang yang hebat dengan karakter masing-masing, menjumpai orang-orang yang kuat dengan kekuatan masing-masing bahkan mengajak berjalan orang-orang cengeng yang hanya tau “aku mau itu, aku mai ini aku mau semuanya” tampa harus berusaha lebih keras lagi.

Ah joe, sungguh kompleks rasanya melihat perubahan di kota kecilku ini sahabat, dan aku kira bukan salah anak-anak yang suka bermain di tengah malam, namun kontrol orang tua mereka terhadap mereka yang kurang, seakan ada pembiaran pada anak-anak untuk melakukan banyak hal di luar rumah mereka tampa ada kontrol, dan begitupun dengan masyarakatnya, kontrol sosial sungguh tidak ada di kota aku ini sahabat, sungguh sudah tidak ada sama sekali.

Joe, ketika kau berkunjung nanti ke bima, aku sarankan engkau tidak usah berlama-lama di sini joe, nyesak yang ada ketika engkau berlama-lama di sini nantinya, engkau akan melihat hal-hal yang sudah tidak asing sebenarnya kau lihat, ketika di lombok atau mataram, dan ketika engkau sedang asik duduk-duduk di sebuah tempat tongkorongan bersama kawan-kawanmu, mungkin kau akan melihat ada anak gadis mengisap tembakau, meminum-minuman yang aneh-aneh, itu bagiku hal yang lumrah ketika di kota besar yang perkembangannya sudah sangat berkembang, namun di bima, kau akan melihat itu juga suatu saat nanti. Kemarin ketika engkau datang ke bima dan belum melihat ha-hal semacam itu, namun sekarang sudah mulai bermunculan hal-hal semacam itu di bima joe, yaaa aku hanya memberitahumu saja joe tidak untuk membuatmu berkecil hati.

Joe sahabatku, kau dikenal dalam dunia maya atau dunia sosial media dengan ransel usang, aku tidak mengerti maksudnya, namun suatu saat kau harus menjelaskannya kepadaku kenapa harus nama itu yang kau pilih, sama dengan si juplek atau bakantan, ah entahlah sahabat itu hanya bumbu dari pembicaraan tidak jelasku diatas.

Aku sungguh heran di kota ini joe, kota kecil yang begitu pesat perkembangannya ini, dimana semua aspek kehidupan sudah di nilai dengan materi, sudah tidak ada lagi jiwa gotong royong para manusia yang ada di kota ini khususnya masyarakat yang tinggal di dekat pusat pemerintahan, apakah aku sudah menceritakan kepadamu joe tentang sebuah kejadian ketika banjir dahulu menghantam kota bima ini, cerita tentang seorang kepala daerah yang sama sekali menutup mata ketika ada masyarakatnya datang meminta bantuan, tidak usahlah aku sebut dia masyarakat joe, aku sebut saja dia tetangga dari kepala daerah tersebut, jangankan melihat tetangganya joe, memberi bantuan yang sangat dibutuhkan oleh tetangganya saja dia tidak sudi, sungguh seorang pemimpin yang begitu kharismatik rupanya sampai-sampai menjaga semua pemberian kepada tetangganya.

Benar tidak joe aku katakan diatas itu, kharismatik kah?? oh salah rupanya. Ah sudahlah joe, makan hati aku ceritakan hal tersebut kepada dirimu.

Selamat malam joe, semoga kau tidak bosan membaca apa yang kutulis belakangan ini, dan semoga kau bisa kembali secepatkan ke bima, bukan bima yang membutuhkanmu sahabat, namun aku yang membutuhkanmu untuk bertukar pikiran tentang banyak hal.

*gizan.

Please follow and like us:
1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *